Kunci, benda kecil yang kadang dilupakan, seringkali tertinggal atau hilang namun sangat penting bagi kehidupan. Jika tak ada kunci, bagaimana kau membuka sebuah ruangan, kotak, tempat atau apapun itu yang diamankan? bagaimanapun bentuknya, tak bisa dipungkiri kunci memang sangat berguna, sangat penting dan sayangnya sangat beresiko untuk hilang jika kau tak pandai menjaganya.
Tahukah kau? hidupmu juga memiliki kuncinya sendiri. Kaulah pemegang kunci masternya. Lalu apakah kunci hidup bisa diduplikat? Tentu saja bisa. Bagaimana caranya? Pergunakan mulut mu, ceritakan semua kehidupanmu, maka kau telah menduplikat kunci hidupmu. Apa harus diduplikat? Semua itu tergantung kepada "Sang Pemilik" kunci master tersebut. Ia bisa menduplikat kunci kehidupannya dan diserahkan ke orang kepercayaannya, dan bisa juga cukup memberikan duplikat kunci tersebut ke Tuhannya.
Seperti kotak pandora, itulah kehidupanmu, jika salah memberikan duplikat kunci hidupmu, maka kotak itu bisa terbuka kapan saja dan membawa bencana. Ingat, tak semua orang bisa kau percaya. Bahkan orang kepercayaanmu bisa menjadi tersangka terbukanya kotak pandora hidupmu. Maka dari itu, jangan percayakan seutuhnya kunci mu kepada orang lain.
Bisa dibilang, hidupmu bagai sebuah rumah, dengan banyak ruangan yang dimana setiap ruangan memiliki kuncinya masing-masing. Ruangan-ruangan itu beraneka ragam, ada yang berisikan sesuatu yang indah, ada pula yang berisikan sesuatu yang menyeramkan. Pikirkan kembali, ruangan mana yang bisa kau duplikatkan kuncinya, dan ruangan mana yang harus kau pegang sendiri kuncinya.
Selain itu, menjadi pemegang kunci duplikat kehidupan seseorang sangat berat, apalagi pemegang kunci duplikat ruangan yang menyeramkan. Banyak sekali cobaan yang akan datang menimpa, seperti "Sang Pemilik" kunci master yang tiba-tiba saja berlaku tidak baik padamu sehingga kau tergoda untuk membuka ruangan yang kau miliki kunci duplikatnya, hingga godaan dari orang luar yang merupakan musuh "Sang Pemilik" dan tahu bahwa kau memegang kunci kehidupan "Sang Pemilik" itu.
Sebagai manusia, aku memiliki kunci kehidupanku sendiri. Aku juga memutuskan memberikan duplikat kunci hidupku ke beberapa orang, dari pemegang kunci duplikat ruangan yang berisi sesuatu yang indah dan menyenangkan, sampai pemilik kunci duplikat ruangan yang berisi sesuatu yang kurang menyenangkan dan berbahaya. Tapi, untuk ruangan yang berbahaya, aku mempercayakan kunci duplikat ku ke seseorang yang juga mempercayakan kunci duplikat hidupnya kepada ku. Secara tidak langsung, kami memiliki sebuah kontrak tak tertulis dimana kami harus menjaga ruangan tersebut tetap tertutup rapat. Namun, aku pernah tergoda untuk membuka ruangan kehidupan seseorang yang kurang menyenangkan. Tentu saja bukan tanpa alasan, tetapi disebabkan dari menumpuknya rasa kecewa yang timbul dari perbuatan si "Pemilik Kunci Master" itu. Yang pada akhirnya, terbuka ruangan itu, menghancurkan si "Pemilik Kunci Master" dan juga menghancurkan ku sebagai tersangka terbukanya ruangan tersebut. Ya, membuka ruangan hidup seseorang yang isinya kurang menyenangkan tidak hanya menghancurkan si "Pemilik Kunci Master" tersebut, tetapi juga menghancurkan dirimu sebagai pemegang kunci duplikat itu. Bukan tidak mungkin ruangan kehidupanmu juga akan dia buka.
Intinya, jika kau sudah menunjuk seseorang untuk memegang kunci duplikat hidupmu, baik itu yang buruk maupun yang baik. Maka perlakukan dia dengan baik. Karena apapun bentuknya, kunci sangat penting bagi kehidupanmu. Dan untuk kau yang memegang kunci duplikat, jaga amanah yang dititipkan kepadamu karena mungkin kau adalah satu-satunya pemegang kunci duplikat hidup seseorang. Kau boleh membuka ruangan yang diamanatkan kepadamu jika itu memang untuk kebaikan. Setidaknya, berfikir dulu sebelum membuka ruangan kehidupan orang lain.
Tampilkan postingan dengan label Bebas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bebas. Tampilkan semua postingan
Minggu, 30 September 2018
Rabu, 07 Maret 2018
Renungan
Kita butuh cermin. Untuk melihat lagi kedalam diri kita. Apa yang kurang dan harus diperbaiki, serta apa yang lebih dan harus ditata lagi. Ingat, kita bukan Nabi, bukan Rasul. Kita hanya manusia biasa, sebaik kita menjaga perilaku dan tutur kata, pasti ada saja satu atau dua alpha di diri kita.
Jangan pernah berfikir kita adalah satu-satunya yang merasa tersakiti. Sadarkah bahwa diamnya kita pun mengundang banyak prasangka? Banyak pula hati yang sakit karena diamnya kita. Diam itu emas, tapi bukankah dengan bicara kita bisa menyelesaikan masalah? Dengan bicara semua jadi jelas?
Semua orang punya hati nurani, sejahat apapun dia. Kau sakit hati? Mungkin juga itu yang dirasakan orang lain. Lalu, apa yang harus dilakukan?
Jawaban yang tepat adalah "BICARA". Jelaskan secara langsung, minta maaflah, berilah klarifikasi. Apa salahnya merendah tanpa membuat diri terlihat egois? Akui kesalahan mu dengan ikhlas. Untuk apa mengakui salah namun terlihat tak ingin disalahkan?
Pada akhirnya, semua kembali pada kehidupan sosialnya. Berlakulah seperti yang kamu pelajari dalam agama. Datang dengan baik, pergi dengan santun, Bersosialisasi dengan baik, jangan lupa ucapkan terimakasih kepada sesamamu yang membantu.
Senin, 05 Februari 2018
Hai Kamu (Yang Dulu Pernah Singgah)
Hai kamu,
Yang dulu pernah singgah dihatiku lalu pergi begitu saja
Terimakasih telah kembali membawa sejuta kata indah
Yang mampu menyegarkan area hati yang pernah kau tempati
Mungkin aku akan berfikir begitu jika kau kembali saat itu
Saat dimana hati masih beradaptasi setelah kau tinggal pergi
Saat dimana aku berfikir bahwa segala tawa canda airmata ku adalah dirimu
Kini,
Hatiku tak lagi haus akan kehadiran dirimu.
Ada atau tidak ada kamu dihadapanku, tak lagi berpengaruh
Karena kini, tawa canda airmata ku adalah milikku
Hidupku tak lagi bergantung pada senyawa dirimu
Yang dulu pernah singgah dihatiku lalu pergi begitu saja
Terimakasih telah kembali membawa sejuta kata indah
Yang mampu menyegarkan area hati yang pernah kau tempati
Mungkin aku akan berfikir begitu jika kau kembali saat itu
Saat dimana hati masih beradaptasi setelah kau tinggal pergi
Saat dimana aku berfikir bahwa segala tawa canda airmata ku adalah dirimu
Kini,
Hatiku tak lagi haus akan kehadiran dirimu.
Ada atau tidak ada kamu dihadapanku, tak lagi berpengaruh
Karena kini, tawa canda airmata ku adalah milikku
Hidupku tak lagi bergantung pada senyawa dirimu
Minggu, 21 Mei 2017
Menyerah
Hai kesendirian..
Terimakasih telah datang mengisi hati yang hampa
Merangkul dengan rasa sakit yang tertusuk secara perlahan.
Hai pasrah...
Terimakasih telah duduk manis dalam angan
Menyapu bersih semua mimpi yang masih tertahan
Dan menggantikannya dengan realita tanpa harapan
Aku pun lelah...
Aku pun menyerah...
Tak sedikitpun bahagia yang dapat kuraba
Semua hanyalah ilusi optik dari cahaya harapan berpadu kenyataan
Senyumku itu palsu..
Yang tercipta dari ketidakmampuan diri menghadapi cobaan yang silih berganti
Tawaku hanya perisai
Dari beratnya hidup yang kujalani hingga saat ini.
Tak layak memang, tapi biarkan sekali saja aku menyerah
Melepas semua beban ditengah airmata
Melangkah meninggalkan sesak yang mengikat didada
Hai keberanian...
Datanglah, bawalah diri ini untuk melangkah
Menyeruak keluar dengan paksa dari lingkaran penuh problematika
Mengoyak habis seluruh yang menghadang demi meraih sesuatu yang pasti
Bukan yang hanya muncul dalam angan, bukan yang ada dalam imajinasi
Tetapi yang nyata dan dapat terasa, yang berwujud dan dapat kuraba
Aku menyerah
Kamis, 22 Desember 2016
Ingatan
Ingatan bisa menjadi sebuah hadiah..
Namun, bisa juga menjadi sebuah hukuman.
Saat kita melakukan kebaikan dan oranglain mengingatnya..
Itulah hadiah dalam hidup
Tapi..
Saat kita melakukan kesalahan, oranglain mengingatnya
Bahkan mengungkitnya
Maka itulah hukuman...
Ya...
Itulah hukuman yang mungkin Tuhan berikan
Aku..
Sudah dihukum oleh alam..
Lewat ingatannya...
Lewat kenangannya...
Aku sadari itu...
Aku memang pantas dihukum seperti ini..
Terimakasih..
Karena sudah menghukumku...
Ingatanmu... adalah hukuman terberatku didunia
Namun, bisa juga menjadi sebuah hukuman.
Saat kita melakukan kebaikan dan oranglain mengingatnya..
Itulah hadiah dalam hidup
Tapi..
Saat kita melakukan kesalahan, oranglain mengingatnya
Bahkan mengungkitnya
Maka itulah hukuman...
Ya...
Itulah hukuman yang mungkin Tuhan berikan
Aku..
Sudah dihukum oleh alam..
Lewat ingatannya...
Lewat kenangannya...
Aku sadari itu...
Aku memang pantas dihukum seperti ini..
Terimakasih..
Karena sudah menghukumku...
Ingatanmu... adalah hukuman terberatku didunia
Minggu, 23 Oktober 2016
Masa
Segala sesuatu didunia ini selalu punya masanya...
Seperti kemarau yang tergantikan hujan
Atau sebaliknya..
Seperti Matahari yang tergantikan oleh bulan
Begitu juga sebaliknya...
Begitu pula siklus kehidupan..
Semua ada masanya..
Semua ada waktunya..
Setidaknya itu yang kupikirkan
Tak terkecuali dengan kita
Imajinasiku memainkan gambaran-gambaran tentang kita
Setiap tawa, canda, luka, airmata
Semua terangkum indah bak cerita dalam dongeng putri raja..
Tapi...
Semua tak sama..
Kita hanyalah dua insan dalam potret persahabatan..
Tidak seperti mereka yang terbingkai oleh ikatan cinta..
Kita hanya bisa saling support tanpa takut kehilangan..
Atau mungkin itu hanya kamu yang merasakannya?
Iya...
Apa hanya kamu yang tak pernah merasa takut kehilangan?
Sedangkan aku merasa semua akan berubah jika sudah masanya
Kehangatan yang terasa, akan memudar terkikis oleh liarnya masa..
Riuh tawa yang mealedak akan tenggelam dalam sebuah kata prioritas
Bermula dari ketidakkenalan yang dilanjutkan persahabatan
Aku sempat berfikir apakah kita akan mengikuti hukum alam?
Atau hanya diam ditempat oleh rasa nyaman yang tercipta...
Entahlah.. Yang ku harap semua akan berjalan dengan semestinya
Seperti Bumi mengelilingi Matahari..
Seperti garis orbit dalam sistem tata surya...
Selasa, 18 Oktober 2016
Tampilan Baru
Yah bagaimana memulainya?
Baiklah...
Begini..
Hallo Semuanyaaa, Berhubung saya sudah lulus kuliah, dan sayang jika blog ini nganggur. Maka, saya akan merubah Blog ini. Merubahnya ini dalam bentuk potingan. Biasanya posting tugas kuliah softskill, sekarang bakal posting apapun yang saya pikirin yang absurd dan kadang gak jelas. Itung-itung belajar nulis juga kali yah... siapa tau ada bakat
Okedeh segitu aja pengumumannya.. kedepannya bakal digunain kata sesuai dengan Mood aja yah.. bisa Gue, bisa Aku, bisa Saya. Ya suka-suka aja deh.
Baiklah cukup sekian dan terimakasih.
Wassalam ^_^
Baiklah...
Begini..
Hallo Semuanyaaa, Berhubung saya sudah lulus kuliah, dan sayang jika blog ini nganggur. Maka, saya akan merubah Blog ini. Merubahnya ini dalam bentuk potingan. Biasanya posting tugas kuliah softskill, sekarang bakal posting apapun yang saya pikirin yang absurd dan kadang gak jelas. Itung-itung belajar nulis juga kali yah... siapa tau ada bakat
Okedeh segitu aja pengumumannya.. kedepannya bakal digunain kata sesuai dengan Mood aja yah.. bisa Gue, bisa Aku, bisa Saya. Ya suka-suka aja deh.
Baiklah cukup sekian dan terimakasih.
Wassalam ^_^
Minggu, 11 Oktober 2015
Menyedihkan
Pernahkah kau merasa sendiri?
Sendiri diantara kerumunan manusia yang sibuk dengan aktivitasnya, diantara hiruk pikuknya ibukota, diantara orang-orang sekitarmu dan diantara lingkunganmu?
Apa rasanya? Menyedihkan?
Ya itu yang kini kurasakan.
Sendiri berada diantara kesibukan orang-orang yang beraktivitas. Sendiri diantara hiruk pikuknya ibukota. Sendiri dalam keramaian, sendiri dalam kesepian hati.
Rasanya aku telah jauh terjatuh pada titik jenuh ku. Titik dimana aku hanya bisa terdiam, tanpa tujuan. Tanpa arah. Tanpa harapan.
Titik dimana aku merasa aku bukan apa-apa dan takkan bisa apa-apa.
Titik dimana aku merasa aku bukan siapa-siapa.
Ingin rasanya aku berlari dari kenyataan, menyendiri dengan berbagai pikiran, merenung dengan berbagai harapan yang seakan pupus.
Ingin rasanya aku berteriak. Teriakan putus asa, teriakan kesedihan, teriakan kesendirian.
Menatap langit malam sendiri, tanpa siapa-siapa.
Bolehkah?
Bolehkah aku berteriak? Menangis? Dan menumpahkan segala kekesalan dalam hati?
Lelah berpura-pura kuat. Lelah berpura-pura hebat. Lelah berpura-pura seakan aku bisa menjalani semuanya sendirian.
Aku hanyalah manusia, aku hanyalah wanita. Aku hanya lelah..
Salahkah?
Salahkah bila dalam kesendirian ini aku berharap sesuatu?
Sesuatu yang mungkin takkan pernah menjadi kenyataan
Sesuatu yang mungkin hanya menjadi hayalan orang putus asa
Salahkah aku?
Mengharapkan sosok seorang lelaki datang, menatapku dalam diam, seakan berkata “kau menyedihkan”. Lalu perlahan mendekatiku, berlutut dihadapanku, tetap menatapku dalam diam dengan sendu yang seakan berkata “ternyata benar kau memang wanita yang menyedihkan”. Dan dengan perlahan memelukku dengan hangat, dengan erat seakan berkata “aku paham penderitaanmu”. Membiarkan ku terbiasa dengan pelukannya, hingga kurasa nyaman untuk mengeluarkan airmataku... Membiarkanku menangis dalam pelukannya.
Lalu harapan itu hilang kembali..
Aku tetaplah sendiri hingga rasa geli menggelitik sanubariku. Memaksaku tertawa getir.
Siapa aku? Takkan ada sosok seperti itu yang akan memelukku
Hingga tawa itu berubah menjadi tawa kesedihan seakan tahu betapa bodohnya aku.
Ah aku hanya sesosok manusia tanpa tujuan, tanpa harapan, tanpa cinta.
Hingga bayang-bayang putus asa itu muncul dipikiranku. Mulai menari-nari seakan mengejekku. Memenuhi otakku dan mengganggu jalan pikiranku.
Tarian putus asa itu mulai menggodaku untuk melakukan hal bodoh yang pernah ku lakukan.
Terus dan terus menggodaku, menuntunku untuk mengulangi kesalahan masalalu ku. Bayangan itu terus menari, menggodaku, menertawakanku, menantangku.
Bolehkah aku lakukan itu? Menyakiti diriku sendiri dengan obat penghilang rasa pusing dengan dosis tinggi, dicampur dengan minuman bersoda? Menyakiti diriku sendiri dengan berdiri ditengah perlintasan rel kereta api hingga tertabrak. Bolehkah ku lakukan dosa itu?
Sesuatu menyadarkanku dan membuat bayangan dari tarian putus asa itu hilang.
Aku tak sendiri, aku punya Tuhan, aku punya keluarga, aku punya sahabat, dan mungkin aku masih punya cinta yang tak pernah kusadari sebelumnya.
Tak terasa pipiku mulai basah, airmata ku telah mengalir. Tawa kecil keluar dari mulutku. Menertawakan diriku sendiri.
Betapa bodohnya aku. Betapa menyedihkanya aku.
Sendiri diantara kerumunan manusia yang sibuk dengan aktivitasnya, diantara hiruk pikuknya ibukota, diantara orang-orang sekitarmu dan diantara lingkunganmu?
Apa rasanya? Menyedihkan?
Ya itu yang kini kurasakan.
Sendiri berada diantara kesibukan orang-orang yang beraktivitas. Sendiri diantara hiruk pikuknya ibukota. Sendiri dalam keramaian, sendiri dalam kesepian hati.
Rasanya aku telah jauh terjatuh pada titik jenuh ku. Titik dimana aku hanya bisa terdiam, tanpa tujuan. Tanpa arah. Tanpa harapan.
Titik dimana aku merasa aku bukan apa-apa dan takkan bisa apa-apa.
Titik dimana aku merasa aku bukan siapa-siapa.
Ingin rasanya aku berlari dari kenyataan, menyendiri dengan berbagai pikiran, merenung dengan berbagai harapan yang seakan pupus.
Ingin rasanya aku berteriak. Teriakan putus asa, teriakan kesedihan, teriakan kesendirian.
Menatap langit malam sendiri, tanpa siapa-siapa.
Bolehkah?
Bolehkah aku berteriak? Menangis? Dan menumpahkan segala kekesalan dalam hati?
Lelah berpura-pura kuat. Lelah berpura-pura hebat. Lelah berpura-pura seakan aku bisa menjalani semuanya sendirian.
Aku hanyalah manusia, aku hanyalah wanita. Aku hanya lelah..
Salahkah?
Salahkah bila dalam kesendirian ini aku berharap sesuatu?
Sesuatu yang mungkin takkan pernah menjadi kenyataan
Sesuatu yang mungkin hanya menjadi hayalan orang putus asa
Salahkah aku?
Mengharapkan sosok seorang lelaki datang, menatapku dalam diam, seakan berkata “kau menyedihkan”. Lalu perlahan mendekatiku, berlutut dihadapanku, tetap menatapku dalam diam dengan sendu yang seakan berkata “ternyata benar kau memang wanita yang menyedihkan”. Dan dengan perlahan memelukku dengan hangat, dengan erat seakan berkata “aku paham penderitaanmu”. Membiarkan ku terbiasa dengan pelukannya, hingga kurasa nyaman untuk mengeluarkan airmataku... Membiarkanku menangis dalam pelukannya.
Lalu harapan itu hilang kembali..
Aku tetaplah sendiri hingga rasa geli menggelitik sanubariku. Memaksaku tertawa getir.
Siapa aku? Takkan ada sosok seperti itu yang akan memelukku
Hingga tawa itu berubah menjadi tawa kesedihan seakan tahu betapa bodohnya aku.
Ah aku hanya sesosok manusia tanpa tujuan, tanpa harapan, tanpa cinta.
Hingga bayang-bayang putus asa itu muncul dipikiranku. Mulai menari-nari seakan mengejekku. Memenuhi otakku dan mengganggu jalan pikiranku.
Tarian putus asa itu mulai menggodaku untuk melakukan hal bodoh yang pernah ku lakukan.
Terus dan terus menggodaku, menuntunku untuk mengulangi kesalahan masalalu ku. Bayangan itu terus menari, menggodaku, menertawakanku, menantangku.
Bolehkah aku lakukan itu? Menyakiti diriku sendiri dengan obat penghilang rasa pusing dengan dosis tinggi, dicampur dengan minuman bersoda? Menyakiti diriku sendiri dengan berdiri ditengah perlintasan rel kereta api hingga tertabrak. Bolehkah ku lakukan dosa itu?
Sesuatu menyadarkanku dan membuat bayangan dari tarian putus asa itu hilang.
Aku tak sendiri, aku punya Tuhan, aku punya keluarga, aku punya sahabat, dan mungkin aku masih punya cinta yang tak pernah kusadari sebelumnya.
Tak terasa pipiku mulai basah, airmata ku telah mengalir. Tawa kecil keluar dari mulutku. Menertawakan diriku sendiri.
Betapa bodohnya aku. Betapa menyedihkanya aku.
Rabu, 18 Juni 2014
Aku Yang Akan Pergi
puisi ini gue buat waktu lagi sediiih aja, gak ada niat apa-apa kok,, cuma coret-coret ga jelas selingan tugas...
Aku yang akan pergi.
Cepat atau lambat
Meninggalkan kalian satu persatu
Yang sudah tak peduli lagi dengan kehadiranku..
Aku akan pergi
Perlahan namun pasti
Meninggalkan kalian dengan banyak goresan luka
Dengan harapan luka itu tak menghambat kepergianku
Namun menjadi sebuah kenangan dimana kalian pernah menjalani kehidupan kalian bersamaku
Aku akan pergi
Meninggalkan satu persatu dari kalian
Menatap masa depan yang blm pasti
Menoleh kebelakang, menatap kalian
Dengan tatapan penuh kehangatan dan senyuman yang terindah selama hidupku
Seraya berkata
Aku akan pergi
Rabu, 30 Januari 2013
Makna 17 Tahun (True Story)
“Aku harap, diumurku yang ke 17
tahun nanti akan ada pesta meriah, semua orang bahagia, semua orang yang ku
kenal datang memberi hadiah, dan kalau bisa sebelum 17 tahun aku sudah dapet
pacar jadi pas umurku 17 tahun pacarku dateng ngasih surprise. Pasti seru deh.”
Itulah
harapan ku saat aku melihat pesta ulang tahun salah satu temanku saat aku
berumur 16 tahun. Tapi harapan itu kini
tinggal angan saja, bagaimana tidak? Pesta meriah itu takkan pernah
berlangsung, jangankan pesta, orangtua
ku saja tak mungkin ingat jika aku tak mengingatkan mereka sehari sebelum hari
H. Hadiah? Jangan pernah harap lagi akan hadiah jikalau pesta saja tak ada.
Kekasih? Ia terlalu sibuk dengan dunianya sampai iapun lupa bahwa aku kini
menginjak dewasa.
“ARRRGGHH!!! Aku benci semuanya, keluarga ku,
kekasihku, teman-temanku. Aku benci angka 17, aku benciiiii!!!”
Itulah yang sempat ku fikirkan, aku marah, karena
semua tak sesuai harapan, jika saja adik ku yang terakhir tidak akan khitan
dibulan Februari, mungkin saat ini kami sedang membicarakan apa yang akan
dibuat besok dihari ulangtahun ku, akupun sempat membenci adikku, aku
menyalahkan dia dan rencana (yang saat itu aku fikir) bodoh yang ia pinta.
Hingga pada akhirnya aku hanya bisa menangis meratapi nasib ulangtahun ke 17 taun
ku yang benar-benar buruk.
Entah apa yang aku fikirkan, aku
membuka akun facebook ku, biasanya untuk saat seperti ini hanya facebook lah
tempat aku meluapkan kekesalanku, entah itu melalui foto yang diedit-edit,
status, sampai kubuat catatan. Tapi malam itu aku hanya ingin menulis status.
Yah kuketik lah huruf per huruf hingga membentuk sebuah kalimat.
Itulah status pertama ku, ah entah kenapa aku tak puas. Kuketik lagi Status lainGak ada yang sadar besok hari apa saking sibuknya nyiapin pesta khitanan adek :'(
cuma ngarep keajaiban
Anggap aja besok ga ada apa-apa :) toh orangtua gue pun gak ada yang inget :P
Status kali ini mengundang
teman-teman ku berkomentar
“Happy birthday mba pussss, happy
birthdayy mba pusss...” Komentar temanku yang bernama Ata.
“Aah gue bilang kan anggap aja
besok ga ada apa-apaan.” Balasku dikomentar.
“Ooo tidak bisaaa.” Respon Ata.
“Gak usah diucap lah, gue lagi
sedih..” Balas ku lagi.
Saat aku membalas komentar dari
Ata aku memang mulai muak dengan ucapan “Happy Birthday” dan sejenisnya, sangat
muak.
“Ya... si mbaaakk...mkin nambah
umur jangan mau galau terus dong... umur aja makin nambah, kitanya juga harus bisa
nambah kekuatan diri untuk melangkah.. jangan mau galau-galau terus mbak...”
Tiba-tiba temanku yang lain bernama Steve ikut berkomentar.
Aku terdiam membaca komentar dari
Steve.
“Loe gak
tau sih Steve gimana perasaan gue, sakit tau.” Fikirku. Namun, balasanku berbeda.
“Bukan gitu Steve, gue nya lagi gak mood aja.. keluarga sendiri aja gak ada yang
ngeh,, terlalu sibuk sama adek..” Balasku menanggapi komentar Steve.
“Aduuuhh
mbak...keluarganya cuman yang di rumah doaankk ??? trus kita selama ini dianggap
apaa ??? (*apaan sih lo Steve???? gak jelas -______-") gini aja deeh
mbak.. life goes on kok... nikmatin aja dlu apa yang ada... tawa dan sedih itu
selalu silih berganti, jadi semua tinggal kembali kepada kitanya untuk
menanggapinya scara bijak...” Steve merespon.
Aku
tersentak membacanya, walaupun ia memberikan unsur komedi dalam komentarnya,
tapi tetap saja aku kaget, kalimat “keluarganya cuman yang dirumah doaankk???
Trus kita selama ini dianggap apaa??” itu benar-benar membuka mataku, Steve
benar, keluargaku tak hanya yang dirumah saja, tapi sahabat ku dan
teman-temanku juga termasuk keluarga. Aku tersenyum lalu kuketik lagi status
baru, meninggalkan perdebatan konyol yang Ata dan Steve lakukan di kotak
komentar memenuhi pemberitahuan akun facebook ku.
Ulang tahun itu gak perlu ucapan selamat, gak perlu pesta meriah, yang penting ada orang-orang tersayang disekitar kita aja itu udah cukup..
Lebih cukup lagi kalo ada orang-orang yang sayang sama kita juga nyemangatin diri kita,,,
Thanks to Steve and Ata yang udah buka pemikiran gue malam ini.. loe berdua emang the best :')
Ya aku
benar-benar berterimakasih pada mereka berdua, entah aku harus bagaimana lagi
mengungkapkan terimakasih ku pada mereka. Fikiranku mulai terbuka, kini aku tak
lagi membenci angka 17, terimakasih ya Allah kau mengirimkan hamba teman-teman
yang peduli pada hamba.
Dan
aku lagi-lagi terkejut, ibuku berbisik padaku saat aku sedang minum karena
kehausan akibat menangis terlalu lama.
“Besok, bawa bolen ya buat
temen-temen kamu, tapi kamu beli sendiri. Maaf ibu sama bapak gak bisa
ngerayain, sibuk banget. Kapan-kapan kita makan gado-gado ya sesuai keinginan
kamu.”
Ibuku memang
tak mengucapkan selamat ulangtahun atau sejenisnya, tapi ibuku masih mengingat
bahwa aku pernah berkata aku ingin makan gado-gado sekeluarga saat ulangtahun
ku. Aku hanya mengangguk-angguk, dalam hati aku mengutuk diriku yang
berprasangka buruk pada orangtua ku sendiri.
Dan aku lagi-lagi diberi pencerahan oleh
kekasih ku yang memang baru sampai di Jakarta setelah mengantar barang dagangan
ke Jogja, ternyata ia tak lupa ulangtahunku, ia ingat namun karena ia lupa tak
membawa handphone, maka ia tak bisa menghubungiku tepat waktu dan baru bisa
mengucapkan happy birthday sehari sesudahnya sambil mengomentari status facebook
ku yang dikomentari oleh Steve dan Ata.
“Kamu ini kayak anak kecil, ulang tahun
malah seneng. Harusnya kamu berdoa, umur kamu nambah berarti waktu kamu
mendekati kematian pun semakin dekat. Menuju kematian kok malah seneng-seneng.
Lihat sayang, dibawah kamu masih banyak yang kurang beruntung. Daripada dibuang-buang
buat pesta yang gak ada gunanya mendingan buat mereka. Dengar ya sayang, umur
kamu sekarang 17 tahun, kamu harus bisa berfikir dewasa. Jangan kayak anak
kecil. Aku gak akan pernah setuju kalau kamu ngerayain ulang tahun dengan
berlebihan. Kalau mau mendingan buat santunin anak yatim dan fakir miskin.” Ucap kekasihku saat aku menelponnya.
Ini benar-benar tamparan keras untukku,
benar kata kekasihku. Aku malu pada diriku sendiri, bisa-bisanya aku bertindak
bodoh dan kekanak-kanakan. Trimakasih sayangku, kau membantu menyadarkanku. Aku
tak menyangka seseorang seperti dirinya yang terlihat berandalan ternyata bisa lebih
berfikir cerdas dibanding aku yang statusnya mahasiswa.
“Ini bukan tentang bagaimana pesta yang
meriah, kado yang banyak, surprise yang hebat, dan makanan yang mewah. Tapi ini
adalah proses kedewasaan, dimana kita harus melangkah maju kedepan, menyongsong
tugas baru yang yang semakin berat seiring bertambahnya usia, meninggalkan
kebiasaan lama yang tak penting dan membuka lembaran baru tentang bagaimana
menghadapi kehidupan selanjutnya dengan bijak. Ini bukan saatnya main-main
lagi, karena umur 17 tahun adalah gerbang yang mengantarkan kita menuju
kedewasaan dan meninggalkan masa remaja dan kanak-kanak.” Kataku dalam hati
“Tak perlu pesta mewah, kejutan yang
hebat, dan kado yang banyak, yang sebenarnya dibutuhkan adalah dukungan moril
orangtua, keluarga, sahabat dan teman-teman agar kita tak salah melangkah dalam
proses kedewasaan.Trimakasih ya Allah, kau banyak memberikan hamba pelajaran selama masa ulang tahun hamba.” Fikirku sebelum aku tertidur mengakhiri hari itu.
TAMAT
Senin, 14 Januari 2013
Bayi Malang Yang Dikubur Tanpa Kain Kafan
Di pinggiran kota. Terdapatlah
seorang ibu dengan bayinya yang mungil yang hidup serba kekurangan
tanpa adanya sebuah rumah untuknya bernaung. Di atas trotoar adalah
tempat tinggal mereka. Tanpa adanya uang, ibu dan bayi kecilnya itu
bertahan hidup dengan sisa makanan bekas orang yang sudah di
buang..
Demi mendapatkan makanan, sang ibu terpaksa meninggalkan bayinya di atas trotoar beberapa saat dan kembali lagi jika sang ibu sudah menemukan makanan untuk mereka makan. Kalau tidak begitu, mereka berdua akan mati kelaparan. Begitulah beratnya perjuangan ibu yang jadi gelandangan di pinggir jalan yang jauh dari belas kasihan orang yang berduit. Meski pun begitu, sang ibu tetap berjuang demi hidupnya dan juga masa depan bayi kecilnya itu.
Suatu hari saat sang ibu hendak pergi mencari makanan, seperti biasa sang ibu meletakkan bayinya yang sudah tidur di sudut trotoar yang agak teduh dan barulah sang ibu itu pergi untuk mencari makanan. Berharap ada sisa makanan yang terbuang, sang ibu pun berangkat. Tapi tanpa disadari, bayi yang di letakkannya di sudut trotoar itu tiba- tiba bangun dan merangkak turun dari trotoar. Alhasil.. BRAAAK...!!! Sebuah kecelakaan pun terjadi. Bayi malang itu pun langsung meregang nyawa setelah di sambar oleh motor yang melaju kencang dengan kondisi mengenaskan. Sang ibu pun langsung menjerit melihat bayinya yang sudah tak bernyawa tergeletak di pinggir jalan. Sedangkan pengendara motor itu tidak mengabaikan bayi yang di tabraknya dan terus melaju seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Dengan bercucuran air mata, sang ibu langsung menghampiri jasat bayinya dan menggoncang-goncangkan tubuh bayinya supaya bayinya bangun. Sang ibu masih tidak percaya melihat bayi yang sangat di sayanginya itu sudah tiada.
Tak ada satu pun orang yang memberikan pertolongan. Padahal di lokasi kejadian, orang yang lalu lalang cukup ramai. Tapi mereka justru cuek-cuek bebek melihat kejadian itu. Astaga.. Di manakah perasaan mereka yang berada di lokasi kejadian...? Sang ibu pun pergi meninggalkan jasat bayinya sebentar. Dan beberapa saat kemudian sang ibu datang lagi dengan membawa sisa roti tawar. Sang ibu kembali menghampiri jasat bayinya sambil menyodorkan sisa roti tawar yang di bawanya ke mulut bayinya. Sang ibu berharap supaya bayinya belum mati dan bangun untuk memakan roti tawar tersebut. Tapi bayinya tak kunjung bangun dan air mata sang ibu itu keluar semakin deras.
Alangkah sedihnya hati sang ibu itu. Apalagi melihat orang yang lalu lalang tidak menghiraukan derita sang ibu. Walau pun begitu, sang ibu tetap sabar dan terus berusaha membangunkan bayi yang amat di sayanginya. Tak lama kemudian sang ibu pergi lagi beberapa saat meninggalkan jasat bayinya dan kembali lagi dengan membawakan sisa biskuit yang sudah terbuang kesukaan bayinya. Dengan senyum kasih sayang penuh ke sabaran, kembali sang ibu menyodorkan biskuit itu ke mulut bayinya. Sang ibu sangat berharap sekali melihat bayinya bangun dan memakan biskuit itu. Tapi lagi-lagi bayinya tidak bergeming sedikit pun. Sang ibu pun tertunduk menahan kesedihannya dan menitikkan air mata yang semakin deras keluar mengalir dari kelopak matanya.
Kini sang ibu hanya bisa pasrah menangisi mayat bayinya yang masih tergeletak di pinggir jalan. Untung saja ada si Vian.. pemuda baik hati yang kebetulan lewat saat itu. Dengan wajah iba, si Vian langsung membuka baju serta celananya dan membungkus jasat bayi itu dengan baju dan celananya, layaknya saat proses pengafanan mayat, dan langsung menggotong jasat bayi itu ke suatu tempat untuk segera di makamkan. Setelah selesai menguburkan bayi malang itu, si Vian menghampiri ibu dari bayi malang itu sambil berkata ''puss...ckckck ...'' sahut si Vian sambil memanggil ibu dari bayi malang itu. Sang ibu langsung menyaut. ''meong..!'' Lalu sang ibu kucing itupun pergi mengikuti majikan barunya pulang dan begitulah ceritanya... :D
Jiaah.. Jangan lebay gitu ah.. Masa cerita tentang anak kucing mati aja pake di tangis-tangisin gitu.. Pake ngabisin tisu lagi... Wkwkwkwk
Demi mendapatkan makanan, sang ibu terpaksa meninggalkan bayinya di atas trotoar beberapa saat dan kembali lagi jika sang ibu sudah menemukan makanan untuk mereka makan. Kalau tidak begitu, mereka berdua akan mati kelaparan. Begitulah beratnya perjuangan ibu yang jadi gelandangan di pinggir jalan yang jauh dari belas kasihan orang yang berduit. Meski pun begitu, sang ibu tetap berjuang demi hidupnya dan juga masa depan bayi kecilnya itu.
Suatu hari saat sang ibu hendak pergi mencari makanan, seperti biasa sang ibu meletakkan bayinya yang sudah tidur di sudut trotoar yang agak teduh dan barulah sang ibu itu pergi untuk mencari makanan. Berharap ada sisa makanan yang terbuang, sang ibu pun berangkat. Tapi tanpa disadari, bayi yang di letakkannya di sudut trotoar itu tiba- tiba bangun dan merangkak turun dari trotoar. Alhasil.. BRAAAK...!!! Sebuah kecelakaan pun terjadi. Bayi malang itu pun langsung meregang nyawa setelah di sambar oleh motor yang melaju kencang dengan kondisi mengenaskan. Sang ibu pun langsung menjerit melihat bayinya yang sudah tak bernyawa tergeletak di pinggir jalan. Sedangkan pengendara motor itu tidak mengabaikan bayi yang di tabraknya dan terus melaju seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Dengan bercucuran air mata, sang ibu langsung menghampiri jasat bayinya dan menggoncang-goncangkan tubuh bayinya supaya bayinya bangun. Sang ibu masih tidak percaya melihat bayi yang sangat di sayanginya itu sudah tiada.
Tak ada satu pun orang yang memberikan pertolongan. Padahal di lokasi kejadian, orang yang lalu lalang cukup ramai. Tapi mereka justru cuek-cuek bebek melihat kejadian itu. Astaga.. Di manakah perasaan mereka yang berada di lokasi kejadian...? Sang ibu pun pergi meninggalkan jasat bayinya sebentar. Dan beberapa saat kemudian sang ibu datang lagi dengan membawa sisa roti tawar. Sang ibu kembali menghampiri jasat bayinya sambil menyodorkan sisa roti tawar yang di bawanya ke mulut bayinya. Sang ibu berharap supaya bayinya belum mati dan bangun untuk memakan roti tawar tersebut. Tapi bayinya tak kunjung bangun dan air mata sang ibu itu keluar semakin deras.
Alangkah sedihnya hati sang ibu itu. Apalagi melihat orang yang lalu lalang tidak menghiraukan derita sang ibu. Walau pun begitu, sang ibu tetap sabar dan terus berusaha membangunkan bayi yang amat di sayanginya. Tak lama kemudian sang ibu pergi lagi beberapa saat meninggalkan jasat bayinya dan kembali lagi dengan membawakan sisa biskuit yang sudah terbuang kesukaan bayinya. Dengan senyum kasih sayang penuh ke sabaran, kembali sang ibu menyodorkan biskuit itu ke mulut bayinya. Sang ibu sangat berharap sekali melihat bayinya bangun dan memakan biskuit itu. Tapi lagi-lagi bayinya tidak bergeming sedikit pun. Sang ibu pun tertunduk menahan kesedihannya dan menitikkan air mata yang semakin deras keluar mengalir dari kelopak matanya.
Kini sang ibu hanya bisa pasrah menangisi mayat bayinya yang masih tergeletak di pinggir jalan. Untung saja ada si Vian.. pemuda baik hati yang kebetulan lewat saat itu. Dengan wajah iba, si Vian langsung membuka baju serta celananya dan membungkus jasat bayi itu dengan baju dan celananya, layaknya saat proses pengafanan mayat, dan langsung menggotong jasat bayi itu ke suatu tempat untuk segera di makamkan. Setelah selesai menguburkan bayi malang itu, si Vian menghampiri ibu dari bayi malang itu sambil berkata ''puss...ckckck ...'' sahut si Vian sambil memanggil ibu dari bayi malang itu. Sang ibu langsung menyaut. ''meong..!'' Lalu sang ibu kucing itupun pergi mengikuti majikan barunya pulang dan begitulah ceritanya... :D
Jiaah.. Jangan lebay gitu ah.. Masa cerita tentang anak kucing mati aja pake di tangis-tangisin gitu.. Pake ngabisin tisu lagi... Wkwkwkwk
Just for fun ya guys, maklum saja tugas menumpuk membuat saya stress dan butuh hiburan, semoga kalian senang ya,,,
Selasa, 18 Desember 2012
Merindukanmu (Sahabat)
Aku merindukannya..
Merindukan pelukan hangatnya
Yang selalu ia berikan saat aku bersedih
Aku merindukannya...
Merindukan tangannya
Yang menghapus lembut airmata ku
Disaat aku menangis
Aku merindukannya...
Merindukan suara tegasnya
Suara yang menasihatiku
Disaat aku mulai merasa jenuh akan hidup ini
Aku merindukan diam-Nya
Diam saat aku mulai marah
Diam saat aku butuh waktu untuk sendiri
Ya, aku merindukan dirinya...
Merindukan sosoknya..
Merindukan semua yang pernah ia lakukan..
Aku merindukannya..
Ia sahabat ku...
Sahabat yang telah lama tak berjumpa
Sahabat...
Aku merindukanmu..
Kapankah kita bisa berjumpa lagi??
Kapankah kita bisa bersenda gurau lagi??
Kapankah???
Aku Merindukanmu
Selasa, 20 November 2012
15 Sifat Dasar Manusia Dalam Al-Qur'an
1. Manusia itu LEMAH, “Allah hendak memberikan
keringanan kepadamu dan manusia dijadikan bersifat lemah” (Q.S. Annisa; 28)
2. Manusia itu GAMPANG TERPERDAYA “Hai
manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap
Tuhanmu Yang Maha Pemurah” (Q.S Al-Infithar : 6)
3. Manusia itu LALAI, “Bermegah-megahan telah melalaikan
kamu” (Q.S At-takaatsur 1)
4. Manusia itu PENAKUT / GAMPANG KHAWATIR, berikan cobaan
kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan
buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Q.S
Al-Baqarah 155)
5. Manusia itu BERSEDIH HATI, “Sesungguhnya
orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang
Shabiin , siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah ,
hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka,
tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”
(Q.S Al Baqarah: 62)
6. Manusia itu TERGESA-GESA, Dan manusia mendoa untuk
kejahatan sebagaimana ia mendoa untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat
tergesa-gesa. (Al-Isra’ 11)
7. Manusia itu SUKA MEMBANTAH, “Dia telah
menciptakan manusia dari mani, tiba-tiba ia menjadi pembantah yang nyata.” (Q.S.
an-Nahl 4)
8. Manusia itu SUKA BERLEBIH-LEBIHAN, “Dan apabila
manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk
atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia
(kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa
kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah
orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka
kerjakan.” (Q.S Yunus : 12) “Ketahuilah! Sesungguhnya manusia
benar-benar melampaui batas” (Q.S al-Alaq : 6)
9. Manusia itu pelupa, "Dan apabila
manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya
dengan kembali kepada-Nya; kemudian apabila Tuhan memberikan nikmat-Nya
kepadanya lupalah dia akan kemudharatan yang pernah dia berdoa (kepada Allah)
untuk (menghilangkannya) sebelum itu, dan dia mengada-adakan sekutu-sekutu bagi
Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah:
“Bersenang-senanglah dengan kekafiranmu itu sementara waktu; sesungguhnya kamu
termasuk penghuni neraka.” (Q.S Az-Zumar : 8 )
10. Manusia itu SUKA BERKELUH-KESAH, “Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah” (Q.S Al Ma’arij : 20),
“Manusia tidak jemu memohon kebaikan, dan jika
mereka ditimpa malapetaka dia menjadi putus asa lagi putus harapan.” (Q.S
Al-Fushshilat : 20)
“Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia
niscaya berpalinglah dia; dan membelakang dengan sikap yang sombong; dan
apabila dia ditimpa kesusahan niscaya dia berputus asa” (al-Isra’ 83)
11. Manusia itu KIKIR , "Katakanlah: “Kalau seandainya kamu
menguasai perbendaharaan-perbendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya perbendaharaan
itu kamu tahan, karena takut membelanjakannya.” Dan adalah manusia itu sangat
kikir.” (Q.S. Al-Isra’ : 100)
12. Manusia itu SUKA MENGKUFURI NIKMAT, Dan mereka
menjadikan sebahagian dari hamba-hamba-Nya sebagai bahagian daripada-Nya.
Sesungguhnya manusia itu benar-benar pengingkar yang nyata (terhadap rahmat
Allah). (Q.S. Az-Zukhruf : 15)
sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima
kasih kepada Tuhannya, (Q.S. al-’Aadiyaat : 6)
13. Manusia itu DZALIM dan BODOH, “Sesungguhnya Kami telah
mengemukakan amanat[1233] kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya
enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan
dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan
amat bodoh, ” (Q.S al-Ahzab : 72)
14. Manusia itu SUKA MENURUTI PRASANGKANYA, “Dan kebanyakan
mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu
tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (Q.S Yunus 36)
15. Manusia itu SUKA BERANGAN-ANGAN, “Orang-orang munafik
itu memanggil mereka (orang-orang mukmin) seraya berkata: “Bukankah kami dahulu
bersama-sama dengan kamu?” Mereka menjawab: “Benar, tetapi kamu mencelakakan
dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu- ragu serta ditipu
oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah;dan kamu telah
ditipu terhadap Allah oleh (syaitan) yang amat penipu.” (Q.S al Hadid 72)
Itulah 15 sifat manusia yang disebutkan dalam al-Quran.
Mengerikan bukan? Adapun islam, sudah memberikan solusi untuk segala sifat
buruk manusia ini. Sungguh nikmat iman dan islam ini bukanlah sesuatu yang kita
dapat dengan murah!!!
Pertama, tetap berpegang teguh kepada tali agama dan
petunjuk-petunjuk dari Allah
Kami berfirman: “Turunlah kamu semuanya dari surga itu!
Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti
petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula)
mereka bersedih hati.” (Q.S al-Baqarah : 38)
Kedua, tetap berada dalam ketaatan sesulit apapun situasi
yang melanda
tetap berada dalam ketaatan disini, berarti bersegera
menyambut amal-amal kebaikan. Mungkin seperti syair yang dilantunkan Abdullah
bin Rawahah untuk mengembalikan semangatnya saat nyalinya mulai ciut di perang
mut’ah ketika dua orang sahabatnya yang juga komandan pasukan pergi
mendahuluinya. “wahai jiwa, jika syurga sudah di depan mata mengapa engkau ragu
meraihnya”
pun Allah berfirman “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan
dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang
disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,” (Q.S. Ali Imran : 133)
Ketiga, jaga keimanan kita, adalah hal yang wajar,
iman seseorang naik turun dan berfluktuatif. Sama mungkin seperti yang
dikhawatirkan sahabat Hanzalah, ketika ia curhat kepada abu Bakar bahwa ia
termasuk orang yang celaka. Mengapa demikian? karena ia merasa Imannya turun
ketika jauh dari Rasulullah. Ternyata itu pula yang dirasakan lelaki dengan
iman tanpa retak itu. Hinga mereka berdua akhirnya menghadap Rasulullah.
Mendengar permasalahn mereka, Rasulullah hanya tersenyum dan menjawab,
“selangkah demi selangkah Hanzalah!”
Tetapi sungguh, iman seorang mukmin yang baik, akan tetap
memiliki trend yang menanjak.
Disinilah mungkin loyalitas kita kepada Allah diuji. Apakah
kita bisa, belajar mencintai Allah diatas segala sesuatu, belajar mencintai
sesuatu karena Allah, serta belajar membenci kekufuran!!!
Keempat, Berjama’ah , manusia itu lemah ketika sendiri
dan kuat ketika berjama’ah. Adakah yang meragukannya?
(Postingan ini dikutip dari muallaf Center online, semoga bermanfa'at bagi
yang meluangkan waktu utk membacanya)
Jumat, 10 Agustus 2012
Puisi Tentang Sahabat (repost dari blog lama)
Sebelumnya, aku cuma mau repost puisi ini dari blog punya ku (Sintya Putri P) penasaran? kalau mau lihat aslinya klik aja tulisan dalam tanda kurung itu, kalau males repot sih liat ini ajah tapi di like atau komentarnya dong.. jangan pelit *hihiihihihi*..
Hitam dan Kelabu...
Awalnya hanya ada dua warna yang melekat padaku
Dilupakan atau dibuang..
awalnya hanya ada dua kata yang ku ingat dalam hidupku
Awalnya hanya ada dua warna yang melekat padaku
Dilupakan atau dibuang..
awalnya hanya ada dua kata yang ku ingat dalam hidupku
Diam atau salah..
Itulah yang biasa ku lakukan dalam hidupku
Mengerti atau diacuhkan..
adalah hal yang tak pernah luput dalam diriku..
Tapi...
Semuanya berubah
Saat kau datang dengan senyum
memberikan ku sesuatu yang belum pernah aku rasakan sebelumnya
Bukan warna hitam dan kelabu saja..
kini ada banyak warna yang kau berikan di hidupku
Bukan dilupakan atau dibuang..
Tapi kini aku merasa diingat dan disimpan dalam hatimu
Bukan diam lalu salah yang kini kuarasa
tapi mulai bicara dan didengar oleh mu
Dan juga bukan hanya mengerti dan diacuhkan..
kini aku merasa dimengerti dan mulai dihargai..
Semua itu mulai kudapatkan saat kau datang..
menawarkan segelas bahkan lebih
dari kasih sayang
ya, kasih sayang dalam sebuah kata yang begitu manis
yaitu..
SAHABAT..
wedeeeh gimana mbak, mas? jelek yah? maklum yah newbie cuyy
koment dong cuy walau cuma minta buat kunjungin blog ente.. ente komen, ane jadi followers ente deh asalkan di blog ente ada ikon follownye,, sip bro!!
Langganan:
Postingan (Atom)