Bebas (14) Curhat (13) Lirik Lagu (5) Tugas Kuliah (28)

Rabu, 30 Januari 2013

Makna 17 Tahun (True Story)


         “Aku harap, diumurku yang ke 17 tahun nanti akan ada pesta meriah, semua orang bahagia, semua orang yang ku kenal datang memberi hadiah, dan kalau bisa sebelum 17 tahun aku sudah dapet pacar jadi pas umurku 17 tahun pacarku dateng ngasih surprise. Pasti seru deh.”
Itulah harapan ku saat aku melihat pesta ulang tahun salah satu temanku saat aku berumur  16 tahun. Tapi harapan itu kini tinggal angan saja, bagaimana tidak? Pesta meriah itu takkan pernah berlangsung,  jangankan pesta, orangtua ku saja tak mungkin ingat jika aku tak mengingatkan mereka sehari sebelum hari H. Hadiah? Jangan pernah harap lagi akan hadiah jikalau pesta saja tak ada. Kekasih? Ia terlalu sibuk dengan dunianya sampai iapun lupa bahwa aku kini menginjak dewasa.
“ARRRGGHH!!! Aku benci semuanya, keluarga ku, kekasihku, teman-temanku. Aku benci angka 17, aku benciiiii!!!”
         Itulah yang sempat ku fikirkan, aku marah, karena semua tak sesuai harapan, jika saja adik ku yang terakhir tidak akan khitan dibulan Februari, mungkin saat ini kami sedang membicarakan apa yang akan dibuat besok dihari ulangtahun ku, akupun sempat membenci adikku, aku menyalahkan dia dan rencana (yang saat itu aku fikir) bodoh yang ia pinta. Hingga pada akhirnya aku hanya bisa menangis meratapi nasib ulangtahun ke 17 taun ku yang benar-benar buruk.
Entah apa yang aku fikirkan, aku membuka akun facebook ku, biasanya untuk saat seperti ini hanya facebook lah tempat aku meluapkan kekesalanku, entah itu melalui foto yang diedit-edit, status, sampai kubuat catatan. Tapi malam itu aku hanya ingin menulis status. Yah kuketik lah huruf per huruf hingga membentuk sebuah kalimat.

Gak ada yang sadar besok hari apa saking sibuknya nyiapin pesta khitanan adek :'(
cuma ngarep keajaiban
            Itulah status pertama ku, ah entah kenapa aku tak puas. Kuketik lagi Status lain
Anggap aja besok ga ada apa-apa :) toh orangtua gue pun gak ada yang inget :P

Status kali ini mengundang teman-teman ku berkomentar
“Happy birthday mba pussss, happy birthdayy mba pusss...” Komentar temanku yang bernama Ata.
“Aah gue bilang kan anggap aja besok ga ada apa-apaan.” Balasku dikomentar.
“Ooo tidak bisaaa.” Respon Ata.
“Gak usah diucap lah, gue lagi sedih..” Balas ku lagi.
Saat aku membalas komentar dari Ata aku memang mulai muak dengan ucapan “Happy Birthday” dan sejenisnya, sangat muak.
“Ya... si mbaaakk...mkin nambah umur jangan mau galau terus dong... umur aja makin nambah, kitanya juga harus bisa nambah kekuatan diri untuk melangkah.. jangan mau galau-galau terus mbak...” Tiba-tiba temanku yang lain bernama Steve ikut berkomentar.
Aku terdiam membaca komentar dari Steve.
“Loe gak tau sih Steve gimana perasaan gue, sakit tau.” Fikirku. Namun, balasanku berbeda.
“Bukan gitu Steve, gue nya lagi gak mood aja.. keluarga sendiri aja gak ada yang ngeh,, terlalu sibuk sama adek..” Balasku menanggapi komentar Steve.
“Aduuuhh mbak...keluarganya cuman yang di rumah doaankk ??? trus kita selama ini dianggap apaa ??? (*apaan sih lo Steve???? gak jelas -______-") gini aja deeh mbak.. life goes on kok... nikmatin aja dlu apa yang ada... tawa dan sedih itu selalu silih berganti, jadi semua tinggal kembali kepada kitanya untuk menanggapinya scara bijak...” Steve merespon.
Aku tersentak membacanya, walaupun ia memberikan unsur komedi dalam komentarnya, tapi tetap saja aku kaget, kalimat “keluarganya cuman yang dirumah doaankk??? Trus kita selama ini dianggap apaa??” itu benar-benar membuka mataku, Steve benar, keluargaku tak hanya yang dirumah saja, tapi sahabat ku dan teman-temanku juga termasuk keluarga. Aku tersenyum lalu kuketik lagi status baru, meninggalkan perdebatan konyol yang Ata dan Steve lakukan di kotak komentar memenuhi pemberitahuan akun facebook ku.

Ulang tahun itu gak perlu ucapan selamat, gak perlu pesta meriah, yang penting ada orang-orang tersayang disekitar kita aja itu udah cukup..
Lebih cukup lagi kalo ada orang-orang yang sayang sama kita juga nyemangatin diri kita,,,
Thanks to Steve and Ata yang udah buka pemikiran gue malam ini.. loe berdua emang the best :')
Ya aku benar-benar berterimakasih pada mereka berdua, entah aku harus bagaimana lagi mengungkapkan terimakasih ku pada mereka. Fikiranku mulai terbuka, kini aku tak lagi membenci angka 17, terimakasih ya Allah kau mengirimkan hamba teman-teman yang peduli pada hamba.
Dan aku lagi-lagi terkejut, ibuku berbisik padaku saat aku sedang minum karena kehausan akibat menangis terlalu lama.
“Besok, bawa bolen ya buat temen-temen kamu, tapi kamu beli sendiri. Maaf ibu sama bapak gak bisa ngerayain, sibuk banget. Kapan-kapan kita makan gado-gado ya sesuai keinginan kamu.”
Ibuku memang tak mengucapkan selamat ulangtahun atau sejenisnya, tapi ibuku masih mengingat bahwa aku pernah berkata aku ingin makan gado-gado sekeluarga saat ulangtahun ku. Aku hanya mengangguk-angguk, dalam hati aku mengutuk diriku yang berprasangka buruk pada orangtua ku sendiri.
Dan aku lagi-lagi diberi pencerahan oleh kekasih ku yang memang baru sampai di Jakarta setelah mengantar barang dagangan ke Jogja, ternyata ia tak lupa ulangtahunku, ia ingat namun karena ia lupa tak membawa handphone, maka ia tak bisa menghubungiku tepat waktu dan baru bisa mengucapkan happy birthday sehari sesudahnya sambil mengomentari status facebook ku yang dikomentari oleh Steve dan Ata.
“Kamu ini kayak anak kecil, ulang tahun malah seneng. Harusnya kamu berdoa, umur kamu nambah berarti waktu kamu mendekati kematian pun semakin dekat. Menuju kematian kok malah seneng-seneng. Lihat sayang, dibawah kamu masih banyak yang kurang beruntung. Daripada dibuang-buang buat pesta yang gak ada gunanya mendingan buat mereka. Dengar ya sayang, umur kamu sekarang 17 tahun, kamu harus bisa berfikir dewasa. Jangan kayak anak kecil. Aku gak akan pernah setuju kalau kamu ngerayain ulang tahun dengan berlebihan. Kalau mau mendingan buat santunin anak yatim dan fakir miskin.” Ucap kekasihku saat aku menelponnya.
Ini benar-benar tamparan keras untukku, benar kata kekasihku. Aku malu pada diriku sendiri, bisa-bisanya aku bertindak bodoh dan kekanak-kanakan. Trimakasih sayangku, kau membantu menyadarkanku. Aku tak menyangka seseorang seperti dirinya yang terlihat berandalan ternyata bisa lebih berfikir cerdas dibanding aku yang statusnya mahasiswa.
“Ini bukan tentang bagaimana pesta yang meriah, kado yang banyak, surprise yang hebat, dan makanan yang mewah. Tapi ini adalah proses kedewasaan, dimana kita harus melangkah maju kedepan, menyongsong tugas baru yang yang semakin berat seiring bertambahnya usia, meninggalkan kebiasaan lama yang tak penting dan membuka lembaran baru tentang bagaimana menghadapi kehidupan selanjutnya dengan bijak. Ini bukan saatnya main-main lagi, karena umur 17 tahun adalah gerbang yang mengantarkan kita menuju kedewasaan dan meninggalkan masa remaja dan kanak-kanak.” Kataku dalam hati
“Tak perlu pesta mewah, kejutan yang hebat, dan kado yang banyak, yang sebenarnya dibutuhkan adalah dukungan moril orangtua, keluarga, sahabat dan teman-teman agar kita tak salah melangkah dalam proses kedewasaan.Trimakasih ya Allah, kau banyak memberikan hamba pelajaran selama masa ulang tahun hamba.” Fikirku sebelum aku tertidur mengakhiri hari itu.


TAMAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar