Sendiri diantara kerumunan manusia yang sibuk dengan aktivitasnya, diantara hiruk pikuknya ibukota, diantara orang-orang sekitarmu dan diantara lingkunganmu?
Apa rasanya? Menyedihkan?
Ya itu yang kini kurasakan.
Sendiri berada diantara kesibukan orang-orang yang beraktivitas. Sendiri diantara hiruk pikuknya ibukota. Sendiri dalam keramaian, sendiri dalam kesepian hati.
Rasanya aku telah jauh terjatuh pada titik jenuh ku. Titik dimana aku hanya bisa terdiam, tanpa tujuan. Tanpa arah. Tanpa harapan.
Titik dimana aku merasa aku bukan apa-apa dan takkan bisa apa-apa.
Titik dimana aku merasa aku bukan siapa-siapa.
Ingin rasanya aku berlari dari kenyataan, menyendiri dengan berbagai pikiran, merenung dengan berbagai harapan yang seakan pupus.
Ingin rasanya aku berteriak. Teriakan putus asa, teriakan kesedihan, teriakan kesendirian.
Menatap langit malam sendiri, tanpa siapa-siapa.
Bolehkah?
Bolehkah aku berteriak? Menangis? Dan menumpahkan segala kekesalan dalam hati?
Lelah berpura-pura kuat. Lelah berpura-pura hebat. Lelah berpura-pura seakan aku bisa menjalani semuanya sendirian.
Aku hanyalah manusia, aku hanyalah wanita. Aku hanya lelah..
Salahkah?
Salahkah bila dalam kesendirian ini aku berharap sesuatu?
Sesuatu yang mungkin takkan pernah menjadi kenyataan
Sesuatu yang mungkin hanya menjadi hayalan orang putus asa
Salahkah aku?
Mengharapkan sosok seorang lelaki datang, menatapku dalam diam, seakan berkata “kau menyedihkan”. Lalu perlahan mendekatiku, berlutut dihadapanku, tetap menatapku dalam diam dengan sendu yang seakan berkata “ternyata benar kau memang wanita yang menyedihkan”. Dan dengan perlahan memelukku dengan hangat, dengan erat seakan berkata “aku paham penderitaanmu”. Membiarkan ku terbiasa dengan pelukannya, hingga kurasa nyaman untuk mengeluarkan airmataku... Membiarkanku menangis dalam pelukannya.
Lalu harapan itu hilang kembali..
Aku tetaplah sendiri hingga rasa geli menggelitik sanubariku. Memaksaku tertawa getir.
Siapa aku? Takkan ada sosok seperti itu yang akan memelukku
Hingga tawa itu berubah menjadi tawa kesedihan seakan tahu betapa bodohnya aku.
Ah aku hanya sesosok manusia tanpa tujuan, tanpa harapan, tanpa cinta.
Hingga bayang-bayang putus asa itu muncul dipikiranku. Mulai menari-nari seakan mengejekku. Memenuhi otakku dan mengganggu jalan pikiranku.
Tarian putus asa itu mulai menggodaku untuk melakukan hal bodoh yang pernah ku lakukan.
Terus dan terus menggodaku, menuntunku untuk mengulangi kesalahan masalalu ku. Bayangan itu terus menari, menggodaku, menertawakanku, menantangku.
Bolehkah aku lakukan itu? Menyakiti diriku sendiri dengan obat penghilang rasa pusing dengan dosis tinggi, dicampur dengan minuman bersoda? Menyakiti diriku sendiri dengan berdiri ditengah perlintasan rel kereta api hingga tertabrak. Bolehkah ku lakukan dosa itu?
Sesuatu menyadarkanku dan membuat bayangan dari tarian putus asa itu hilang.
Aku tak sendiri, aku punya Tuhan, aku punya keluarga, aku punya sahabat, dan mungkin aku masih punya cinta yang tak pernah kusadari sebelumnya.
Tak terasa pipiku mulai basah, airmata ku telah mengalir. Tawa kecil keluar dari mulutku. Menertawakan diriku sendiri.
Betapa bodohnya aku. Betapa menyedihkanya aku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar