Penalaran dan Argumentasi
Diambil dari Wikipedia Bahasa Indonesia, Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (pengamatan empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi – proposisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut menalar.
Dalam penalaran, proposisi yang dijadikan dasar penyimpulan disebut dengan premis (antesedens) dan hasil kesimpulannya disebut dengan konklusi (consequence).
Hubungan antara premis dan konklusi disebut konsekuensi.
Lalu, Argumentasi adalah salah satu jenis pengembangan paragraf dalam penulisan yang ditulis dengan tujuan untuk meyakinkan atau membujuk[butuh rujukan] pembaca. Dalam penulisan argumentasi isi dapat berupa penjelasan, pembuktian, alasan, maupun ulasan obyektif dimana disertakan contoh, analogi, dan sebab akibat.
Tujuannya adalah agar pembaca yakin bahwa ide, gagasan, atau pendapat tersebut adalah benar dan terbukti.
Sindrome "Konsumerisme" dan "Pamer" Di Tengah Keberadaan Mall Grade A
Sudah banyak bertebaran di daerah Jakarta, Mall-mall yang berbasis level A atau biasa disebut Grade A. Biasanya banyak eksekutif muda dan beberapa orang penting dalam perusahaan yang menginjakkan kaki di mall-mall grade A di Jakarta. Bahkan beberapa dari mereka berkumpul untuk melakukan meeting. Tak hanya dari kalangan perkantoran, masyarakat biasa pun banyak yang mengunjungi mall-mall ini untuk berbagai macam tujuan. Salah satunya untuk gaya.
Maraknya perkembangan Mall Grade A ini merupakan salah satu dampak dari globalisasi. Sebenarnya tak ada masalah dengan adanya mall grade A ini maupun globalisasi, namun masyarakat kita terlalu suka menerima apapun tanpa menyaringnya terlebih dahulu sehingga apa yang terjadi malah membuat adanya mall ini menjadi ajang untuk gaya.
Dampak Globalisasi yang akan kita bahas dari Mall ini adalah sindrom “konsumerisme”, dimana sindrome ini menyerang hampir semua masyarakat Jakarta. Sindrome “konsumerisme” ini menjadikan masyarakat lebih suka mengkonsumsi barang-barang dari brand yang terkenal dan mahal. Tak peduli bagaimana caranya, masyarakat akan melakukan apapun demi mendapatkan barang tersebut. Selain itu Mall grade A ini lebih sering dipakai untuk ajang “pamer”. Pamer dalam artian disini adalah mempublish apa yang ia punya. Misal, saat saya berkunjung ke Senayan City, tak sedikit saya melihat orang dengan tampilan yang waw dengan santainya membawa, memainkan dan mengotak-atik gadget mahal yang ia miliki. Lalu saat saya berkunjung ke Kota Kasablanka, selain saya melihat beberapa pengusaha yang melakukan meeting, saya juga melihat orang-orang yang dengan bangganya bisa menenteng shopping bag dari salah satu brand terkenal yang mahal. beberapa ada pula yang sengaja memamerkan shopping bag terssebut dengan menunjukkan ke arah kamera saat berfoto. Jika kita mau melihat budaya Indonesia, ini sudah jauh menyimpang. Bagaimana tidak? Budaya kita adalah budaya orang-orang yang ramah dan rendah hati. Namun yang kini terjadi? Tidak ada rasa rendah hati lagi di masyarakat kita, yang ada hanya rasa sombong karena sudah bisa menginjakkan kaki di mall kelas wahid dan bisa membeli barang-barang mahal, seakan mereka adalah orang paling waw karena sudah memiliki barang yang “berkelas”. Bahkan menurut pengalaman saya, orang yang mengidap sindrom “pamer” ini dengan mudahnya merendahkan masyarakat yang berada pada posisi kelas bawah. Memang salah, jika kita tak pernah menginjakkan kaki di Mall grade A? Memang ada undang-undangnya kita harus tahu tempat seperti itu? Seperti yang kita ketahui, di Jakarta masih banyak masyarakat kelas bawah yang beberapa diantara mereka bukan tidak sanggup, tapi merasa tidak perlu tahu hal yang tak begitu penting bagi hidup mereka. Untuk mereka, bisa berkumpul di tempat makan pinggir jalan bersama keluarga saja sudah merupakan kebahagiaan yang tak bisa dibeli, lalu untuk apa menyombongkan diri?
Terakhir dari saya, ada sebuah kalimat yang saya temukan di salah satu media sosial yang berbunyi “Manusia itu berasal dari tanah, Makan dari hasil tanah, berdiri diatas tanah, kembali pun ke dalam tanah, lalu untuk apa bersifat setinggi langit?”.
Sekian tulisan dari saya, bukan ingin menjudge tapi hanya ingin memberikan pendapat tentang kondisi masyarakat kita ditengah berkembangnya Mall Grade A di Jakarta ini. Bila ada kesalahan mohon maaf.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar