“Aku harap, diumurku yang ke 17
tahun nanti akan ada pesta meriah, semua orang bahagia, semua orang yang ku
kenal datang memberi hadiah, dan kalau bisa sebelum 17 tahun aku sudah dapet
pacar jadi pas umurku 17 tahun pacarku dateng ngasih surprise. Pasti seru deh.”
Itulah
harapan ku saat aku melihat pesta ulang tahun salah satu temanku saat aku
berumur 16 tahun. Tapi harapan itu kini
tinggal angan saja, bagaimana tidak? Pesta meriah itu takkan pernah
berlangsung, jangankan pesta, orangtua
ku saja tak mungkin ingat jika aku tak mengingatkan mereka sehari sebelum hari
H. Hadiah? Jangan pernah harap lagi akan hadiah jikalau pesta saja tak ada.
Kekasih? Ia terlalu sibuk dengan dunianya sampai iapun lupa bahwa aku kini
menginjak dewasa.
“ARRRGGHH!!! Aku benci semuanya, keluarga ku,
kekasihku, teman-temanku. Aku benci angka 17, aku benciiiii!!!”
Itulah yang sempat ku fikirkan, aku marah, karena
semua tak sesuai harapan, jika saja adik ku yang terakhir tidak akan khitan
dibulan Februari, mungkin saat ini kami sedang membicarakan apa yang akan
dibuat besok dihari ulangtahun ku, akupun sempat membenci adikku, aku
menyalahkan dia dan rencana (yang saat itu aku fikir) bodoh yang ia pinta.
Hingga pada akhirnya aku hanya bisa menangis meratapi nasib ulangtahun ke 17 taun
ku yang benar-benar buruk.
Entah apa yang aku fikirkan, aku
membuka akun facebook ku, biasanya untuk saat seperti ini hanya facebook lah
tempat aku meluapkan kekesalanku, entah itu melalui foto yang diedit-edit,
status, sampai kubuat catatan. Tapi malam itu aku hanya ingin menulis status.
Yah kuketik lah huruf per huruf hingga membentuk sebuah kalimat.
Itulah status pertama ku, ah entah kenapa aku tak puas. Kuketik lagi Status lainGak ada yang sadar besok hari apa saking sibuknya nyiapin pesta khitanan adek :'(
cuma ngarep keajaiban
Anggap aja besok ga ada apa-apa :) toh orangtua gue pun gak ada yang inget :P
Status kali ini mengundang
teman-teman ku berkomentar
“Happy birthday mba pussss, happy
birthdayy mba pusss...” Komentar temanku yang bernama Ata.
“Aah gue bilang kan anggap aja
besok ga ada apa-apaan.” Balasku dikomentar.
“Ooo tidak bisaaa.” Respon Ata.
“Gak usah diucap lah, gue lagi
sedih..” Balas ku lagi.
Saat aku membalas komentar dari
Ata aku memang mulai muak dengan ucapan “Happy Birthday” dan sejenisnya, sangat
muak.
“Ya... si mbaaakk...mkin nambah
umur jangan mau galau terus dong... umur aja makin nambah, kitanya juga harus bisa
nambah kekuatan diri untuk melangkah.. jangan mau galau-galau terus mbak...”
Tiba-tiba temanku yang lain bernama Steve ikut berkomentar.
Aku terdiam membaca komentar dari
Steve.
“Loe gak
tau sih Steve gimana perasaan gue, sakit tau.” Fikirku. Namun, balasanku berbeda.
“Bukan gitu Steve, gue nya lagi gak mood aja.. keluarga sendiri aja gak ada yang
ngeh,, terlalu sibuk sama adek..” Balasku menanggapi komentar Steve.
“Aduuuhh
mbak...keluarganya cuman yang di rumah doaankk ??? trus kita selama ini dianggap
apaa ??? (*apaan sih lo Steve???? gak jelas -______-") gini aja deeh
mbak.. life goes on kok... nikmatin aja dlu apa yang ada... tawa dan sedih itu
selalu silih berganti, jadi semua tinggal kembali kepada kitanya untuk
menanggapinya scara bijak...” Steve merespon.
Aku
tersentak membacanya, walaupun ia memberikan unsur komedi dalam komentarnya,
tapi tetap saja aku kaget, kalimat “keluarganya cuman yang dirumah doaankk???
Trus kita selama ini dianggap apaa??” itu benar-benar membuka mataku, Steve
benar, keluargaku tak hanya yang dirumah saja, tapi sahabat ku dan
teman-temanku juga termasuk keluarga. Aku tersenyum lalu kuketik lagi status
baru, meninggalkan perdebatan konyol yang Ata dan Steve lakukan di kotak
komentar memenuhi pemberitahuan akun facebook ku.
Ulang tahun itu gak perlu ucapan selamat, gak perlu pesta meriah, yang penting ada orang-orang tersayang disekitar kita aja itu udah cukup..
Lebih cukup lagi kalo ada orang-orang yang sayang sama kita juga nyemangatin diri kita,,,
Thanks to Steve and Ata yang udah buka pemikiran gue malam ini.. loe berdua emang the best :')
Ya aku
benar-benar berterimakasih pada mereka berdua, entah aku harus bagaimana lagi
mengungkapkan terimakasih ku pada mereka. Fikiranku mulai terbuka, kini aku tak
lagi membenci angka 17, terimakasih ya Allah kau mengirimkan hamba teman-teman
yang peduli pada hamba.
Dan
aku lagi-lagi terkejut, ibuku berbisik padaku saat aku sedang minum karena
kehausan akibat menangis terlalu lama.
“Besok, bawa bolen ya buat
temen-temen kamu, tapi kamu beli sendiri. Maaf ibu sama bapak gak bisa
ngerayain, sibuk banget. Kapan-kapan kita makan gado-gado ya sesuai keinginan
kamu.”
Ibuku memang
tak mengucapkan selamat ulangtahun atau sejenisnya, tapi ibuku masih mengingat
bahwa aku pernah berkata aku ingin makan gado-gado sekeluarga saat ulangtahun
ku. Aku hanya mengangguk-angguk, dalam hati aku mengutuk diriku yang
berprasangka buruk pada orangtua ku sendiri.
Dan aku lagi-lagi diberi pencerahan oleh
kekasih ku yang memang baru sampai di Jakarta setelah mengantar barang dagangan
ke Jogja, ternyata ia tak lupa ulangtahunku, ia ingat namun karena ia lupa tak
membawa handphone, maka ia tak bisa menghubungiku tepat waktu dan baru bisa
mengucapkan happy birthday sehari sesudahnya sambil mengomentari status facebook
ku yang dikomentari oleh Steve dan Ata.
“Kamu ini kayak anak kecil, ulang tahun
malah seneng. Harusnya kamu berdoa, umur kamu nambah berarti waktu kamu
mendekati kematian pun semakin dekat. Menuju kematian kok malah seneng-seneng.
Lihat sayang, dibawah kamu masih banyak yang kurang beruntung. Daripada dibuang-buang
buat pesta yang gak ada gunanya mendingan buat mereka. Dengar ya sayang, umur
kamu sekarang 17 tahun, kamu harus bisa berfikir dewasa. Jangan kayak anak
kecil. Aku gak akan pernah setuju kalau kamu ngerayain ulang tahun dengan
berlebihan. Kalau mau mendingan buat santunin anak yatim dan fakir miskin.” Ucap kekasihku saat aku menelponnya.
Ini benar-benar tamparan keras untukku,
benar kata kekasihku. Aku malu pada diriku sendiri, bisa-bisanya aku bertindak
bodoh dan kekanak-kanakan. Trimakasih sayangku, kau membantu menyadarkanku. Aku
tak menyangka seseorang seperti dirinya yang terlihat berandalan ternyata bisa lebih
berfikir cerdas dibanding aku yang statusnya mahasiswa.
“Ini bukan tentang bagaimana pesta yang
meriah, kado yang banyak, surprise yang hebat, dan makanan yang mewah. Tapi ini
adalah proses kedewasaan, dimana kita harus melangkah maju kedepan, menyongsong
tugas baru yang yang semakin berat seiring bertambahnya usia, meninggalkan
kebiasaan lama yang tak penting dan membuka lembaran baru tentang bagaimana
menghadapi kehidupan selanjutnya dengan bijak. Ini bukan saatnya main-main
lagi, karena umur 17 tahun adalah gerbang yang mengantarkan kita menuju
kedewasaan dan meninggalkan masa remaja dan kanak-kanak.” Kataku dalam hati
“Tak perlu pesta mewah, kejutan yang
hebat, dan kado yang banyak, yang sebenarnya dibutuhkan adalah dukungan moril
orangtua, keluarga, sahabat dan teman-teman agar kita tak salah melangkah dalam
proses kedewasaan.Trimakasih ya Allah, kau banyak memberikan hamba pelajaran selama masa ulang tahun hamba.” Fikirku sebelum aku tertidur mengakhiri hari itu.
TAMAT